Banyak kreator dan pebisnis konten merasa bingung ketika sudah rutin posting, desain rapi, bahkan mengikuti tren, tetapi performa konten tetap rendah. Like sepi, komentar minim, dan reach stagnan. Dalam banyak kasus, penyebab konten sepi bukan karena ide yang buruk, melainkan karena kesalahan riset pasar sejak awal.
Riset pasar untuk konten berfungsi sebagai fondasi strategi. Tanpa riset yang tepat, konten untuk tiktok atau sosial media yang anda buat hanya berdasarkan asumsi pribadi, meniru kompetitor secara mentah, atau sekadar ikut tren tanpa memahami audiens. Akibatnya, pesan konten tidak relevan dan gagal menarik perhatian.
Kesalahan dalam riset pasar sering kali tidak disadari. Banyak yang merasa sudah “melakukan riset”, padahal yang dilakukan hanyalah melihat konten viral tanpa analisis. Di sinilah pentingnya memahami bentuk-bentuk kesalahan riset pasar yang sering terjadi, agar strategi konten bisa diperbaiki sebelum terus menghabiskan waktu dan tenaga.
Download & Dapatkan Ebook Mulai Kontenmu dari Nol Sampai Cuan Disini!
Riset Pasar dalam Dunia Konten, Kenapa Banyak yang Salah Kaprah?
Dalam dunia konten digital, riset pasar bukan hanya tentang data besar atau survei formal. Riset pasar untuk konten mencakup pemahaman perilaku audiens, kebutuhan mereka, masalah yang ingin diselesaikan, hingga bahasa yang mereka gunakan sehari-hari.
Sayangnya, banyak kreator melakukan riset pasar konten yang salah. Mereka menganggap riset pasar cukup dengan:
- Meniru konten kompetitor yang viral
- Mengikuti tren tanpa konteks
- Mengandalkan feeling pribadi
Padahal, riset pasar seharusnya membantu menjawab pertanyaan penting: siapa audiens saya, apa masalah mereka, dan kenapa mereka harus peduli dengan konten ini?
Ketika riset pasar tidak dilakukan dengan benar atau bahkan dilewati, muncullah strategi konten yang gagal. Konten tidak memiliki arah yang jelas, tidak konsisten secara pesan, dan sulit membangun kedekatan dengan audiens. Inilah awal dari performa konten yang sepi dan tidak berkembang.
Kesalahan 1. Menentukan Target Pasar Terlalu Luas
Salah satu kesalahan menentukan target pasar yang paling sering terjadi adalah ingin menjangkau “semua orang”. Banyak kreator berpikir bahwa target luas berarti peluang besar. Padahal, dalam praktiknya, target yang terlalu luas justru membuat konten tidak relevan untuk siapa pun secara spesifik.
Misalnya, konten edukasi bisnis yang ditujukan untuk “semua pelaku usaha”. Bahasa, contoh, dan masalah yang dibahas menjadi terlalu umum. Audiens pun merasa konten tersebut tidak benar-benar “ngena” dengan kondisi mereka.
Kesalahan riset audiens seperti ini membuat:
- Hook konten tidak kuat
- Pesan terasa generik
- Engagement rendah
Riset pasar yang baik justru membantu mempersempit fokus. Dengan target pasar yang jelas, konten bisa lebih tajam, solutif, dan terasa personal. Tanpa ini, kesalahan riset pasar akan terus berulang dan konten sulit berkembang.
Kesalahan 2. Mengira Ikut Tren Viral Sudah Termasuk Riset Pasar
Mengikuti tren memang penting, tetapi ikut tren tanpa analisis adalah bentuk lain dari kesalahan riset pasar. Banyak kreator hanya meniru format, audio, atau gaya visual dari konten viral tanpa memahami kenapa konten tersebut viral dan siapa audiens yang menikmatinya.
Akibatnya, konten hanya menjadi “tempelan tren” yang tidak relevan dengan audiens utama. Ini termasuk kesalahan analisis audiens, karena tren yang cocok untuk satu niche belum tentu cocok untuk niche lain.
Riset pasar konten yang benar seharusnya melihat:
- Audiens siapa yang merespons tren tersebut
- Masalah apa yang diangkat
- Emosi apa yang dimainkan
Tanpa analisis ini, tren justru menjadi jebakan. Konten terlihat mengikuti arus, tetapi performanya tetap sepi karena tidak sesuai dengan kebutuhan audiens.
Kesalahan 3. Mengabaikan Data Audiens dari Konten Sebelumnya
Ini adalah inti dari banyak kesalahan riset pasar. Banyak kreator sudah punya data, tetapi tidak menggunakannya. Padahal, data dari konten sebelumnya adalah sumber riset pasar paling murah dan akurat.
Beberapa bentuk riset pasar tanpa data yang sering terjadi:
- Tidak menganalisis watch time dan retention
- Mengabaikan komentar audiens
- Tidak membandingkan performa konten
Akibatnya, kesalahan membuat konten tanpa riset terus terulang. Konten dibuat ulang dengan pola yang sama, meskipun performanya buruk.
Padahal, dari data sederhana, kreator bisa mengetahui:
- Topik mana yang paling relevan
- Format apa yang paling disukai audiens
- Gaya penyampaian yang paling engaging
Mengabaikan data ini sama saja menutup mata terhadap insight pasar yang nyata.
Kesalahan 4. Riset Pasar Tanpa Validasi ke Audiens Nyata
Kesalahan berikutnya adalah mengandalkan asumsi tanpa validasi. Banyak kreator merasa “sudah tahu” apa yang dibutuhkan audiens, padahal belum pernah bertanya langsung.
Bentuk kesalahan ini antara lain:
- Tidak memanfaatkan polling atau Q&A
- Tidak membaca DM dan komentar secara mendalam
- Tidak menguji ide konten sebelum produksi besar
Ini termasuk kesalahan riset audiens yang serius. Tanpa validasi, konten hanya berdasarkan sudut pandang kreator, bukan kebutuhan pasar. Akibatnya, konten terasa jauh dari realitas audiens dan berujung pada strategi konten yang gagal.
Kesalahan 5. Terlalu Fokus Jualan, Lupa Masalah Audiens
Riset pasar bertujuan memahami masalah audiens, bukan hanya mencari cara menjual produk. Namun, banyak konten langsung berfokus pada promosi tanpa memahami pain point audiens terlebih dahulu.
Konten seperti ini sering menjadi penyebab konten sepi, karena audiens belum merasa butuh, tetapi sudah ditawari solusi. Ini juga termasuk kesalahan dalam riset pasar karena tidak memahami tahapan kesadaran audiens.
Riset pasar untuk konten seharusnya membantu kreator menentukan:
- Kapan edukasi dibutuhkan
- Kapan storytelling lebih efektif
- Kapan penawaran bisa dimasukkan
Tanpa pemahaman kesalahan riset pasar ini, konten terasa memaksa dan kurang relevan.
Kesalahan 6. Tidak Meng-update Riset Pasar Secara Berkala
Pasar dan audiens selalu berubah. Konten yang relevan enam bulan lalu belum tentu relevan hari ini. Namun, banyak kreator terjebak pada data lama dan tidak memperbarui riset mereka.
Kesalahan riset pasar yang sering terjadi di sini adalah:
- Menggunakan persona audiens lama
- Tidak mengikuti perubahan kebutuhan audiens
- Mengabaikan tren perilaku baru
Akibatnya, konten terasa ketinggalan zaman dan engagement menurun secara perlahan.
Cara Menghindari Kesalahan Riset Pasar agar Konten Tidak Sepi
Agar terhindar dari kesalahan riset pasar, berikut langkah praktis yang bisa diterapkan:
- Gunakan data konten sebelumnya untuk evaluasi strategi
- Validasi ide konten ke audiens lewat polling dan interaksi
- Persempit target pasar agar pesan lebih relevan
- Analisis tren secara kontekstual, bukan sekadar ikut-ikutan
- Perbarui riset pasar secara berkala sesuai perubahan audiens
Dengan pendekatan ini, risiko kesalahan riset pasar dalam membuat konten bisa diminimalkan.
Ebook Mulai Kontenmu dari Nol Sampai Cuan
Beruang Digital hadir untuk membantu kreator dan pebisnis memahami konten berbasis riset pasar, bukan sekadar coba-coba.
📌 Melalui ebook “Mulai Kontenmu dari Nol Sampai Cuan”, kamu akan mempelajari:
- Cara melakukan riset pasar untuk konten
- Memahami audiens secara praktis
- Menghindari kesalahan riset pasar yang umum
- Menyusun strategi konten yang lebih tepat sasaran
- dan banyak lagi pengetahuan terkait konten kreator di era sekarang!
Ebook ini cocok untuk kamu yang ingin membangun konten secara terarah dan berkelanjutan.
Baca Juga : Panduan Lengkap Cara Riset Pasar untuk Kebutuhan Konten ataupun Iklan!
Yuk Dapatkan Ebooknya Sekarang Juga!
Konten sepi bukan selalu soal algoritma atau kurang konsisten. Dalam banyak kasus, akar masalahnya adalah kesalahan riset pasar. Dengan memahami kesalahan dalam riset pasar dan memperbaikinya, konten bisa menjadi lebih relevan, terarah, dan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.
Konsultasi dengan tim Beruang Digital sekarang untuk mendapatkan Ebook “Mulai Kontenmu dari Nol sampai Cuan” melalui :
Nomor Telepon/Whatsapp 0851-1763-6569 atau,
Website Eesmi www.beruangdigital.id

